
Tidak mungkin rasanya memberikan terapi individual kepada semua perokok. Agar suatu terapi bisa bermanfaat secara masal dan nasional, upaya ini harus sederhana dan mudah dilakukan. Dan ini nampaknya belum ada tanda-tanda akan ditemukan, walaupun permen kunyah nikotin dan metode merokok cepat telah menunjukkan beberapa harapan.
Penemuan akan suatu metode yang mampu dan kuat masih belum berhasil diteliti sekalipun berbagai metode ekstrim telah pernah dicoba. Misalnya, suatu percobaan terkontrol menunjukkan bahwa paket 10 kali mengikuti terapi aversi listrik masing-masing 45 menit, walaupun lebih baik daripada tak ada terapi samasekali, ternyata tidak lebih efektif daripada 10 kali sesi penunjang dengan jangka waktu cuma 15 menit. Manfaat tidak langsung justru berasal dari faktor-faktor non spesifik, seperti kehadiran di klinik, atensi dari terapis, dan kegiatan mencatat konsumsi rokok. Tidak ada efek spesifik dari sok listrik tersebut. Kenyataan ini memang diamati pada beberapa metode terapi perilaku lainnya. Demikian pula, obat-obatan ternyata tidak lebih bermanfaat dibandingkan dengan plasebo, seperti halnya pendekatan-pendekat an perilaku dan farmakologis yang lebih teoretis tidak lebih berhasil daripada terapi kelompok yang diberikan pada klinik-berhenti- merokok umumnya. Namun apapun metodanya, sekalipun kesuksesan awalnya 30 atau 80 persen, penyelidikan lanjutan setahun kemudian menunjukkan bahwa tak lebih dari 15-25 persen dari sampel semula yang masih bertahan tak merokok.
Relaps atau kambuhnya tabiat merokok biasanya terjadi pada 3 bulan pertama, suatu hal yang juga ditemukan dalam terapi pecandu alkohol dan heroin.
Sumber : Indonesia Tobacco Control







0 Tanggapan ke “‘Mengobati’ ketergantungan rokok”