Kolom Solusi ini diciptakan untuk menggali fakta dan solusi seputar pengalaman pribadi maupun link artikel-artikel mengenai rokok, saya mengajak anda baik perokok pasif maupun perokok aktif untuk ikut serta dalam forum ini demi mewujudkan dunia yang bersih dan bebas dari rokok dan lebih luasnya lagi untuk menyebarkan “virus” kepada manusia Indonesia agar terbiasa menggagas solusi daripada menjadi bagian dari masalah.silahkan mengisi form komentar di bawah ini. Komentar dibawah ini bersifat bebas asalkan tidak mengandung SARA.

Jadilah bagian dari solusi, menuju dunia yang bersih dan bebas dari asap dan racun rokok.

“Be a part of solution, to free the world from smoking poison”

9 Tanggapan ke “Solusi Anda”


  1. 1 Onod32 21 Juli, 2008 pukul 9:40 am

    Indonesia mau bebas rokok?

    Coblos Presiden 2009 yang mau menghukum tegas para perokok dan industrinya dengan denda semaksimal-maksimalnya..kalau perlu hukuman mati!

    Soalnya rokok = narkoba terselubung

    Bila presidennya tidak bisa menanggung amanah tersebut, kita hukum secara rame-rame secara kerakyatan (diarak dari sabang – merauke) atau lebih baik golput saja!

  2. 2 teukufarhan 22 Juli, 2008 pukul 10:23 am

    Saya yakin Masyarakat Indonesia akan semakin cerdas memilih pemimpin yang peduli akan pengendalian sumber narkoba yang satu ini (rokok)….Rokok adalah narkoba kecil yang saat ini telah dianggap biasa dan tabu untuk dibicarakan apalagi ditentang. Omong kosong pemerintah meneriakkan gerakan anti narkoba sebelum aturan tentang rokok dapat dikendalikan. ayo suarakan suara hatimu, lawan para industri rokok yang meracuni masyarakat Keluarga Indonesia melalui Iklannya yang bertubi-tubi, lawan rokok bukan orangnya.

  3. 3 kiesaputra 31 Juli, 2008 pukul 10:38 pm

    Walaupun saya belum berhenti merokok, saya mendukung program ini. Satu tip bagi yang belum merokok, sebaiknya Anda tidak memulainya, agar nanti nggak perlu mengentikannya :)

    PERLU SOLUSI TERPADU DARI SEMUA PIHAK.
    Katakan sebuah pabrik rokok dengan 10 rb pegawai, mempunyai 10 pabrik berbeda lokasi, masing2 pabrik ada 1000 pegawai, dari 1000 pegawai 500 orang kos/kamar, 250 orang berangkat kerja diantar suami, 250 orang naik bemo, 500 orang jalan kaki.
    Itung2an sangat-sangat kasar saja yang bs dihidupi dari kegiatan pabrik tersebut mungkin spt ini:
    PEGAWAI = 10 rb x 2 = 20 rb (suami istri), anggap masing-masing punya 2 anak = 40 rb orang
    PEMILIK KOS2AN = 500 x 10 = 5000 kamar, anggap saja setiap pengelola kos2an punya 10 kamar = 500 orang pengelola = 1000 orang suami/istri (anak tidak dihitung)
    ANGKOT = 250 org x 10 lokasi = 2500 orang, kalau 1 angkot isi 10, maka perlu 250 angkot, sopir suami/istri = 500 orang (anak tdk dihitung)
    WARUNG2 di sekitar lokasi pabri, anggap saja ada 20 warung di setiap lokasi = 10 x (20 x 2 suami istri) = 400 (anak tidak dihitung)
    DLL yang nggak disebutkan/belum dihitung.

    Kasarnya = 40.000 keluarga pegawai + 1000 pemilik kos + 500 sopir angkot + 400 pemilik warung = 41.900 orang

    Padahal 1 pabrik rokok besar bisa mempunya karyawan sampai 32.000 orang.

    Jadi ringkasnya, kalau mau mennutup pabrikan rokok, pemerintah dan berbagai pihak harus mempersiapkan solusi yang terpadu.

    Bagaimana menurut Anda?

    (* mohon maaf kalau ulasannya sangat kasar dan agak mbulet, smoga aja bs dimengerti)

    Terima kasih & Salam Kenal.

  4. 4 teukufarhan 2 Agustus, 2008 pukul 10:50 am

    salam

    idenya menarik sekali, salah satu solusi terpadunya adalah uang yang melimpah hasil dari perputaran uang pada pabrik rokok diputar pada bisnis yang lain yang lebih bermanfaat, tidak hanya untuk membuka lapangan pekerjaan semata tapi manfaat yang diterima bagi user atou pembeli produk tersebut harus merasakan manfaatnya bagi kehidupannya. Dalam hal ini, kesehatan adalah salah satu investasi terbesar bagi manusia. Bagi yang bervisi jangka panjang, dia tidak akan menghabiskan hidup dan uangnya untuk membeli racun yang kelak akan mengurangi produktivitas hidupnya, karena kalo kesehatan sudah dirampas oleh penyakit yang berkelanjutan, otomatis produktivitas akan hilang dan mimpi-mimpi yang telah direncanakan buyar seketika saat mau menjemputnya dalam keadaan penyakit akibat rokok.

  5. 5 Ricky MMA. 21 Agustus, 2008 pukul 3:48 pm

    Menghentikan orang merokok di Indonesia tidak cukup hanya dengan himbauan, memang perlu keberanian pemerintah dan kesadaran publik untuk menghentikan kebiasaan tersebut.
    Pemerintah harus berani mengambil keputusan sebagai berikut :
    1. Komitmen pemerintah harus jelas. Pemerintah harus berani mengatakan bahwa merokok adalah haram !
    2. Menutup semua pabrik rokok di Indonesia.
    3. Menetapkan batasan lokasi penjualan dan pajak rokok import yang beredar di Indonesia setinggi-tingginya.
    4. Memperluas area larangan merokok, terutama di fasilitas publik dan memberi hukuman atau sanksi yang tegas bagi yang merokok di tempat umum.
    Bagi masyarakat Indonesia, kita semua perlu menyadari bahwa merokok adalah kebiasaan yang sangat tidak sehat dan boros ( bagi yang sudah kecanduan ).
    Jumlah penduduk yang menanggung dampak negatif dengan adanya pabrik rokok SANGAT JAUH LEBIH BESAR dibandingkan dengan jumlah penduduk yang merasa diuntungkan dengan beroperasinya pabrik rokok, apalagi jika dibandingkan dengan jumlah pengusaha rokok !
    Jutaan orang setiap hari secara tidak langsung ‘NYETOR DUIT’ ke pengusaha pabrik rokok, tapi apa yang didapatnya…? Bagi perokok aktif maupun pasif, disamping duitnya habis buat beli rokok, juga dapat mengidap penyakit kanker, gangguan fungsi pernapasan dan paru-paru, gangguan fungsi reproduksi dll. karena pengaruh rokok.
    Jelas, merokok itu TIDAK ADA manfaatnya bahkan semuanya mudhorat. Jadi merokok memang harus diharamkan dari bumi Indonesia… !!!

  6. 6 Dody YW 8 November, 2008 pukul 3:27 am

    Oksigen adalah salah satu nikmat terbesar dari Tuhan, menghirupnya akan menjaga kita tetap hidup. Jadi, mengapa justru kita lebih menikmati menghirup asap? Apakah ini berarti kufur nikmat?

  7. 7 robani 20 November, 2008 pukul 11:17 pm

    mempekerjakan ribuan tenaga buruh murah adalah cara berlindung para kapitalis pengusaha rokok.agar bisnis sampahnya terus berjalan,karena para buruh yang dibayar murah itulah yang menjadi alasannya.saya belum mengetahui adakah satu daerah yang masyarakatnya menjadi makmur dan sejahtera dari pabrik rokok.yang saya tahu masyarakat hanya menjadi buruh yang bekerja dengan bayaran rendah,dengan hasil yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja. seharusnya pemerintah tak perlu takut menutup pabrik rokok, hanya karena alasan nasib para pekerjanya. TUHAN yang maha adil selalu menebar rezeki bagi siapapun yang hidup di alamNYA. kenapa..? para buruh rokok takut tak memiliki mata pencarian jika tak bekerja di pabrik rokok,buat apa kita jadi manusia yang dianugerhi akal dan pikiran untuk mencari rezeki yang lebih baik. BATASI IKLAN ROKOK YANG MEMBODOHI GENERASI BANGSA. TUTUP PABRIKNYA. BOIKOT PRODUKNYA. DUKUNG TERUS GERAKAN ANTI ROKOK.. SEMOGA TUHAN MEMBUKAKAN PINTU HATI DAN PIKIRAN PARA PEROKOK ATAS KEKUFURAN,KE EGOISAN DAN KEKELIRUANNYA SELAMA INI….

  8. 8 teukufarhan 22 November, 2008 pukul 10:55 pm

    Sepakat bro…bener banget…ini yang jarang diketahui oleh masyarakat….orang awam pikir perokok itu telah mensejahterakan masyarakat sekitar, ternyata itu hanya kedok untuk membodohi masyarakat kita….trims atas solusinya….

  9. 9 fikryilhamni 8 Maret, 2009 pukul 11:22 pm

    saya tidak terlalu setuju apabila rokok di haramkan.. dilihat dari segi kesehatan emang jauh lebih negatif, tapi bagaimana nasib para karyawan yang bekerja dipabrik rokok???
    semua itu tergantung dari kesadaran kita sendiri,,,,,,,,


Tinggalkan Balasan




 

Desember 2009
S S R K J S M
« Okt    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Chat With Me

  • Diperbolehkan mengutip dan menyebarluaskan isi blog ini tanpa izin dari pemilik blog dengan tetap mencantumkan sumbernya.
  • Translate this blog (English)

    Image and video hosting by TinyPic

    Blog Stats

    • 70,669 hits

    Blog Rank

    PageRank
    counter

    Maps

    Tamu

    BannerFans.com

    counter