Arsip untuk Juni, 2012

Penduduk Produktif RI Bakal Melempem 15 Tahun Lagi Karena Rokok


Jakarta, Sekitar 15 tahun lagi, jumlah penduduk usia produktif di Indonesia jauh lebih banyak dibanding penduduk tak produktif. Tapi kualitas usia produktif ini akan melempem jika para pemudanya sudah teracuni rokok.

Agar ‘bonus demografi’ usia produktif ini dapat tercapai adalah mengoptimalkan pendidikan dan kesehatan.

Tenaga kerja yang produktif akan dapat terserap secara optimal di pasar kerja jika memiliki pendidikan dan ketrampilan yang dibutuhkan. Hal ini sulit tercapai jika calon tenaga kerja produktif sudah teracuni oleh rokok.

Konsumsi rokok diketahui merupakan salah satu faktor risiko berbagai macam penyakit seperti penyakit jantung, paru-paru, kanker dan sebagainya.

“Jika konsumsi rokok tidak dihentikan mulai dari sekarang, dalam 10 tahun lagi dampak buruk rokok akan menimpa tenaga kerja produktif. Tenaga kerja yang sakit-sakitan akan menurunkan produktivitas nasional yang pada akhirnya akan mengancam bonus demogarfi,” kata Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dalam acara diskusi mengenai Konsumsi Rokok Mengancam Bonus Demografi di Hotel Atlit Century Park Senayan, Rabu (14/6/2012).

Jika melihat kondisi di lapangan, kekhawatiran ini bisa menjadi kenyataan karena jumlah generasi muda yang merokok semakin banyak. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menemukan bahwa saat ini jumlah perokok remaja berusia 15-19 tahun ada sebanyak 4,2 juta jiwa. Jumlah ini mengalami kenaikan 2 kali lipat dari tahun 1995.

Padahal, 15 tahun lagi remaja-remaja ini akan memasuki pasar kerja. Dengan perilaku tak sehatnya ini, maka di tahun 2027 remaja perokok berisiko tinggi terkena penyakit yang terkait dengan merokok seperti kanker, stroke dan serangan jantung.

“Umur orang mulai merokok dari tahun ke tahun semakin muda. Jumlah perokok muda yang merokok juga semakin banyak. Di antara 10 orang yang kecanduan merokok, hanya 2 yang berhasil berhenti merokok,” kata Abdillah Ahsan, SE, MSE., Peneliti dari Lembaga Demografi FEUI.

Tak hanya berisiko menyebabkan penyakit berbahaya, rokok juga merupakan pintu menuju penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Penelitian yang pernah dilakukan BNN menemukan bahwa 90% orang yang kecanduan narkoba berawal dari kebiasaan merokok.

Bonus Demografi

‘Bonus Demografi’ adalah suatu kondisi di mana jumlah penduduk usia produktif, yaitu penduduk yang berusia 15-64 tahun, di suatu negara jauh lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia tak produktif. Fenomena ini hanya terjadi 1 kali dalam sejarah suatu penduduk.

Sebagai contoh, rasio ketergantungan penduduk tahun 1955 mencapai 81. Artinya, 100 penduduk produktif menanggung 81 orang penduduk tak produktif. Perbandingan ini akan terus menurun hingga level terendah, yaitu 44 yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2020 – 2030.

Penurunan rasio ini disebabkan menurunnya jumlah anak yang dimiliki keluarga di Indonesia, sehingga beban yang ditanggung penduduk produktif makin sedikit.

“Kondisi ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah, sehingga jumlah penduduk yang produktif tadi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menggerakkan roda perekonomian,” kata Prof Tjandra.
Sumber: m.detik.com/read/2012/06/14/133139/1941309/763/penduduk-produktif-ri-bakal-melempem-15-tahun-lagi-karena-rokok

Rokok Sebenarnya Bikin Negara Tekor


Jakarta, Banyak yang berpendapat bahwa sulitnya mengendalikan tembakau karena pemerintah mendapatkan pemasukan yang sangat besar dari rokok. Padahal jika dihitung-hitung, rokok justru membuat negara rugi alias tekor.

Pelaksana Tugas Menteri Kesehatan, Prof. dr. Ali Gufron Mukti, MSc, Ph.D menuturkan bahwa sebenarnya biaya yang dikeluarkan untuk rokok, termasuk biaya kesehatan dan hilangnya produktivitas karena sakit, tidak sebanding bahkan jauh lebih besar ketimbang cukai yang diterima oleh negara.

Bila dihitung, cukai rokok tahun 2010 sekitar 50 triliun dan naik menjadi 70 triliun di tahun 2011. Sedangkan biaya yang harus dikeluarkan untuk rokok dan akibat-akibatnya, bisa mencapai 230 triliun.

“Secara negara dan bangsa khususnya mengalami kerugian. Hitung-hitungannya kita bisa lihat berapa biaya yang dikeluarkan untuk rokok sehari, sebulan, setahun. Kemudian berapa yang sakit, berapa biaya produktivitas yang hilang karena sakit, kemudian biaya dari keluarga. Nah semuanya itu, lebih kurang 230 triliun, sementara kita lihat pajak itu sekitar 70 triliun,” ujar Prof. dr. Ali Gufron Mukti, MSc, Ph.D, Pelaksana Tugas Menteri Kesehatan, disela-sela acara Penyerahan WHO World No Tobacco Day Award untuk Alm Mantan Menkes Endang Sedyaningsih di Kantor Kemenkes, Jakarta, Rabu (13/6/2012).

Biaya langsung dan tidak langsung yang dikeluarkan untuk rokok bahkan lebih dari 3 kali lipat dari cukai yang diterima oleh negara. Ini artinya, rokok membuat negara rugi.

Disisi lain, banyak orang yang enggan berhenti merokok karena bahaya kesehatan yang mengancam tidak datang secara langsung, melainkan secara perlahan. Apalagi harga rokok di Indonesia terbilang murah jika dibandingkan negara lain.

Padahal rokok tidak memiliki manfaat kesehatan sama sekali. Bahkan jika dihitung-hitung, biaya yang dikeluarkan untuk membakar rokok selama 10 tahun sudah bisa dipakai untuk membiayai berangkat haji ke tanah suci.

“Harusnya harga rokok memang disesuaikan ya, sehingga anak kecil dan yang sebetulnya tidak mampu tidak memaksakan diri, kemudian uangnya habis untuk rokok,” tutup Prof. Ali Gufron.

Sumber : m.detik.com/read/2012/06/13/162029/1940567/763/rokok-sebenarnya-bikin-negara-tekor

Ingin Berhenti Merokok? Banyaklah Makan Buah dan Sayur


Jakarta, Jika sedang mencoba untuk berhenti merokok, cobalah makan banyak buah dan sayuran. Menurut sebuah penelitian, banyak makan buah dan sayuran membantu para perokok menghentikan kebiasaannya lebih lama.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Nicotine and Tobacco Research ini merupakan yang kali pertama mengamati hubungan antara konsumsi buah dan sayuran dengan upaya berhenti merokok.

Para peneliti dari Sekolah Kesehatan Masyarakat University of Buffalo menyurvei 1.000 orang perokok berusia 25 tahun ke atas lewat telepon secara acak. Peneliti memantau responden 14 bulan kemudian dan menanyakan apakah para responden sudah berhenti merokok beberapa bulan sebelumnya.

Penelitian ini menemukan bahwa perokok yang banyak mengkonsumsi buah dan sayuran 3 kali lebih mungkin berhenti merokok selama minimal 30 hari dibandingkan perokok yang sedikit mengkonsumsi buah dan sayuran. Hubungan ini tetap ada bahkan setelah memperhitungkan faktor lain seperti usia, jenis kelamin, etnis, pendidikan, pendapatan rumah tangga dan orientasi kesehatan.

Peneliti juga menemukan bahwa perokok yang banyak mengkonsumsi buah dan sayur merokok lebih sedikit setiap harinya dan lebih rendah tingkat ketergantungan nikotinnya.

“Penelitian kami sebelumnya memang menemukan bahwa orang yang berhenti merokok selama kurang dari 6 bulan mengkonsumsi lebih banyak buah dan sayuran daripada yang masih merokok. Apa yang tidak kami ketahui adalah apakah orang yang berhenti merokok lebih banyak mengkonsmsi buah dan sayuran atau orang yang makan banyak buah dan sayuran lebih mungkin untuk berhenti merokok,” kata peneliti, Gary A. Giovino, PhD seperti dilansir Science Daily, Jumat (8/6/2012).

Khasiat ini diduga karena mengkonsumsi banyak buah dan sayuran bisa menekan ketergantungan nikotin. Atau bisa jadi karena konsumsi serat dari buah dan sayuran membuat orang merasa lebih kenyang. Perokok terkadang sulit membedakan antara rasa lapar dengan keinginan untuk merokok.

Berbeda dengan beberapa makanan yang dikenal dapat memicu rasa tembakau seperti daging, minuman berkafein dan alkohol, buah-buahan dan sayuran tidak memicu rasa tembakau. Bahkan buah dan sayur sebenarnya dapat memperburuk rasa tembakau.

“Jumlah perokok di AS masih terus menurun, namun tingkat penurunannya melambat selama beberapa puluh tahun terakhir. 19 persen orang Amerika masih merokok, banyak di antaranya yang ingin berhenti,” kata Giovino.

Temuan ini menyarankan bahwa mengubah pola makan bisa menjadi cara yang penting untuk membantu perokok menghentikan kebiasaannya. Di samping itu, kebijakan lain yang telah terbukti menekan angka perokok juga perlu dilaksanakan. Misalnya menaikkan pajak tembakau, melarang iklan dan terus mengkampanyekan anti rokok lewat media.

 

Sumber : http://health.detik.com/read/2012/06/08/142809/1936351/763/ingin-berhenti-merokok-banyaklah-makan-buah-dan-sayur


Google Translate
Choose your language :

Pasang atau Cetak Banner ini ? Sebarkan…

Klik disini

Masukkan Email anda untuk berlangganan

Bergabunglah dengan 99 pengikut lainnya.

Kultwit

NASIONALISME PALSU PARA KAPITALIS ROKOK | http://chirpstory.com/li/79399

REAKSI MAHASISWA/I TERHADAP ACARA DJARUM FOUNDATION DI UIN SYARIF HIDAYATULLAH | http://chirpstory.com/li/793409

Terkini

Kategori

Diperbolehkan mengutip dan menyebarluaskan isi blog ini tanpa izin dari pemilik blog dengan tetap mencantumkan sumbernya.

Admin :
+62-852-773-22056




jakarta bebas rokok


jakarta bebas rokok


green radio jakarta


kawasan dilarang merokok




RSS Google News

  • Mogok, Buruh Rokok Digugat Rp 2,4 miliar - Tempo.co 1 April, 2015
    Tempo.coMogok, Buruh Rokok Digugat Rp 2,4 miliarTempo.coRibuan buruh pabrik rokok berunjukrasa di depan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Cukai Malang, Jawa Timur, Senin (30/11). Dalam aksinya mereka menolak permenkeu 181/2009 tentang kenaikan tarif cukai. TEMPO/ ...dan lainnya »
  • KINERJA EMITEN ROKOK: Beban Penjualan Meningkat, GGRM ... - Bisnis.com 1 April, 2015
    Bisnis.comKINERJA EMITEN ROKOK: Beban Penjualan Meningkat, GGRM ...Bisnis.comBisnis.com, JAKARTA- Meski beban penjualan emiten rokok sepanjang tahun lalu membengkak, PT Gudang Garam Tbk masih mencatat pertumbuhan kinerja yang positif dan mengungguli emiten rokok lainnya. Berdasarkan laporan keuangan yang ...Gudang Garam Kantongi Pendapatan Rp 65 TriliunBisni […]
  • Beri Rokok ke Suku Anak Dalam, Khofifah: Jangan Sok Tahu - Tempo.co 30 Maret, 2015
    Tempo.coBeri Rokok ke Suku Anak Dalam, Khofifah: Jangan Sok TahuTempo.coMenteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa (tengah), mengenakan baju pada seorang bocah Suku Anak Dalam saat kunjungan dan pemberian bantuan di desa Olak Besar, Batanghari, Jambi, 13 Maret 2015. Mensos bertekad berikan Desa Adat sebagai ...Dikritik karena Beri Rokok ke Orang Rimba di Jambi […]
  • Puntung Rokok Bisa Jadi Insektisida Nabati - Pikiran Rakyat 1 April, 2015
    Pikiran RakyatPuntung Rokok Bisa Jadi Insektisida NabatiPikiran RakyatMAHASISWA jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNY saat melakukan peneltian terhadap puntung rokok pada bunga kol. Dalam hasil penelitian tersebut, puntung rokok bisa dijadikan insektisida nabati.*.
  • 665 Bungkus Rokok Palsu Disita Satpol PP Semarang - SINDOnews.com 1 April, 2015
    SINDOnews.com665 Bungkus Rokok Palsu Disita Satpol PP SemarangSINDOnews.comPetugas kemudian menyita 665 bungkus rokok palsu dan tidak bercukai tersebut. Rokok-rokok yang disita itu terdiri dari 87 merek yang menyerupai produk rokok asli seperti Malioboro, AL, CC Mild, Djimat, Joe Ma Djoe (257), Voontry, Apoche, Miri dan merk ...209 Bungkus Rokok Tak Bercukai […]
  • Penggunaan rokok elektrik meningkat di antara remaja - BBCIndonesia.com 31 Maret, 2015
    BBCIndonesia.comPenggunaan rokok elektrik meningkat di antara remajaBBCIndonesia.comBanyak remaja, bahkan yang sebelumnya tidak pernah merokok, mencoba mengisap rokok elektrik atau e-cigarettes, kata para peneliti di Inggris barat laut. Daftar pertanyaan yang diisi oleh 16.193 remaja berumur 14 sampai 17 tahun, yang diterbitkan BMC ...dan lainnya »
  • BBM dan Rokok Picu Inflasi Maret - Bisnis.com 1 April, 2015
    Bisnis.comBBM dan Rokok Picu Inflasi MaretBisnis.comBisnis.com, JAKARTA—Kenaikan harga BBM dan rokok menjadi salah satu pemicu utama inflasi Maret. Di sisi lain, harga bahan makanan mengalami deflasi meski harga beras masih tinggi. Badan Pusat Statistik melaporkan indeks harga konsumen pada ...Bahan Makanan Penyumbang Inflasi di ManadoTribun ManadoTren Infla […]
  • Minta Uang Rokok tak Diberi, Suami Bakar Tubuh Istri - Tribun Jambi 1 April, 2015
    Tribun JambiMinta Uang Rokok tak Diberi, Suami Bakar Tubuh IstriTribun JambiTRIBUNJAMBI.COM, SEKAYU -- Lantaran tak diberi uang, Az (40) nekat menyiramkan bensin ke tubuh istrinya, Linda (35). Tindakan Az tersebut dilakukan di kediamannya Jalan Sekayu–Sukarami, Dusun Belimbing, Kelurahan Balai Agung Kecamatan ...Lantaran Tak Diberi uang Az Nekat Menyiramkan […]
  • Iklan Rokok Sangat Buruk bagi Anak-anak - Suara Pembaruan 1 April, 2015
    Iklan Rokok Sangat Buruk bagi Anak-anakSuara PembaruanSebuah penelitian yang dilakukan olehUniversitasMuhammadiyah Yogyakarta menyimpulkan bahwa iklan rokok menjadi pemicu anakanak di bawah umur untuk merokok. Dengan iklan perusahaan rokok berharap produk rokok akan masuk ke dalam otak ...
  • Gugat Mensos Khofifah Soal Pemberian Rokok, Budayan: YLKI ... - JPNN.com 30 Maret, 2015
    Gugat Mensos Khofifah Soal Pemberian Rokok, Budayan: YLKI ...JPNN.comProtes yang disampaikan kepada YLKI ini karena aksinya yang hendak menggugat Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa karena memberikan rokok kepada Orang Rimba di Sungai Kemang, Jambi. Budayawan, Al Zastrouw Ng mengatakan sikap YLKI itu ...

Rank

Stats

  • 386,644 Visitors

Visitors


counter
teukufarhan.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 99 pengikut lainnya.